Kabupaten Malang Eksport Kopi Ke 32 Negara

0
84
Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Hasan Tuasikal

KABUPATEN MALANG  |  Wilayah pegunungan memang sangat cocok untuk, mengembangkan tanaman kopi, hal itu banyak dimiliki kabupaten Malang. Memiliki topografi pegunungan. Tak heran jika biji kopi kering menjadi komoditas utama ekspor Kabupaten Malang, hal tersebut diungkapkan oleh Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Hasan Tuasikal, Senin (1/10).

Pada awak media, Hasan Tausikal, menjelaskan untuk neraca ekspor Kabupaten Malang, tahun 2017 mencapai US$ 388.462.850, dan kopi menyumbang 33% dari total nilai ekspor. “Jadi memang dari sepuluh besar komoditas ekspor Kabupaten Malang, kopi adalah yang nomor satu,” terang, Hasan.

Dari data yang dimiliki Disperindag Kab Malang, nilai ekspor untuk kopi di tahun 2017 mencapai US$ 129.266.002,35 dengan volume ekspor 59.103.654.60 kg, mengalami kenaikan jika dibanding tahun 2016 yang nilai ekspornya US$ 122.200.976,22 dengan volume ekspor 63.235.140 kg. “Memang jika mengacu pada nilai, ekspor kopi kita setiap tahun selalu mengalami peningkatan, namun itu mengacu pada kurs dolar. Sedangkan untuk volume, ada penurunan jika dibanding tahun 2016. Sementara ini kita memang kewalahan memenuhi kuota ekspor kita,” papar Kabid Perdagangan, Disperindag Kab Malang.

Untuk memenuhi permintaan kuota ekspor, dua eksportir utama di Kabupaten Malang, PT.Asal Jaya, Dampit, dan PT.Gemilang Sentosa, Singosari tidak hanya menyerap kopi asal Kabupaten Malang, seperti kopi Amstirdam (Ampelgading Tirtoyudo Dampit), namun juga menampung kopi dari daerah lain seperti Lampung, Jawa Tengah, Bali dan lainnya. “Bahkan kita harus mengimpor kopi dari Timor Leste, untuk pemenuhan kuota impor, yang selalu naik,” ujar Hasan.

“Nantinya kopi dari Kab Malang dipasarkan ke 32 negara, seperti Vietnam, Cina, Egypt,Perancis, Jerman, Rusia, Jepang dan banyak lagi. Memang untuk pemenuhan kebutuhan lokal kita agak kekuragan, namun bisa dicukupi dengan kopi dari daerah lain,” tambah pria yang baru menunaikan ibadah Haji.

Melihat permintaan kuota ekspor kopi yang selalu mengalami kenaikan, Hasan berharap Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan bisa meningkatkan produksi kopi, apalagi Kabupaten Malang sejak dahulu dikenal sebagai daerah produsen kopi dengan mutu tidak lagi diragukan. “Harapanya seperti itu, Distambun bisa mengajak para petani kopi untuk meningkatkan produktivitasnya, selama ini Kabupaten Malang dikenal sebagai produsen kopi, sayang jika diambil daerah lain,” tandas Hasan Tuasikal.

Secara terpisah, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Budiar Anwar, menyatakan bahwa untuk meningkatkan produktivitas kopi, yang merupakan produk unggulan Kab Malang, pihaknya telah membuat sentra kopi di tiap kecamatan. “Untuk meningkatkan produktivitas, jelas harus ada peningkatan lahan tanam, maka itu kami membuat sentra kopi di tiap kecamatan,jika itu sudah berjalan, kami yakin produksi kopi akan meningkat, dan kita bisa memenuhi kuota ekspor,” papar mantan Kabag Humas Pemkab Malang.

Tak hanya menambah lahan tanam di tiap kecamatan, menurut Kadistambun Kab Malang, saat ini para petani yang bergabung dalam LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) juga sebagian telah beralih menanam kopi. “Dari tinjauan saya diberbagai tempat, sebagian petani LMDH yang mengerjakan lahan milik Perhutani telah beralih untuk menanam kopi. Jika dibina ini tentu sebuah prospek yang bagus, untuk meningkatkan produksi kopi,” kata Budiar.

Luas lahan kopi robusta di Kab Malang, berdasarkan data Distambun ada 14.948 yang tersebar di berbagai kecamatan. Untuk satu hektar lahan produksi kopi rata-rata menghasilkan kopi 9 – 10 ku. Untuk meningkatkan animo petani menanam kopi, pihak Distambun kerap kali mengadakan sosialisasi dan pendampingan. “Tidak lama kemarin, kita mengadakan Festival Kopi di Dampit, hal itu kan bagus untuk sarana promosi dan sosialisasi ke masyarakat. Ke depan hal seperti itu akan terus kita lakukan,” pungkas Budiar.

Di Kabupaten Malang bisa dikatakan hampir mayoritas penduduknya adalah penikmat kopi, hal ini bisa dilihat dari banyaknya warung kopi dan café yang ada. Mulai dari pusat perkotaan hinga ke gang-gang kecil, kegiatan minum kopi warga sangat mudah ditemui. Toski Dermalaksana (40) alah seorang penikmat kopi yang dijumpai di sebuah café, mengaku dalam sehari dia bisa menghabiskan kopi sampai lima gelas. “Bagi saya ngopi suatu menjadi kebutuhan, satu hari tidak minum kopi, bisa kebingungan,” ujarnya.

Untuk menghormati para penikmat kopi, ICO (International Coffee Organization) telah menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai hari kopi internasional, dan Indonesia merupakan salah satu anggota ICO.(*)

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here