Produksi Sapi Kabupaten Malang, Melampui Target

0
140

KABUPATEN MALANG  |  Sebagai daerah dengan geografis perpaduan antara pegunungan dan pantai, berbagai potensi usaha bisa dikembangkan secara baik di Kabupaten Malang, salah satunya peternakan, terbukti dengan tingginya populasi sapi, yang diungkapkan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) kabupaten Malang, Nurcahyo, Selasa (25/10).

Ditemui di ruang kerjanya, Nurcahyo mengungkapkan untuk tahun 2017 populasi sapi potong di Kab Malang mencapai 234.482 ekor dan sapi perah 83.660 ekor, sedangkan di tahun 2016 silam, untuk sapi potong 223.717 ekor dan perah 81.150 ekor. “Jumlah ini menjadikan populasi sapi di Kab Malang menempati nomor 2 se Provinsi Jawa Timur, setelah Jember,” terang Nurcahyo.

Lebih lanjut dia menjelaskan jika target kelahiran sapi untuk 2017 di angka 56.800 ekor, dan realiasasi kelahiran sapi mencapai 61.531 ekor. “Dengan program nasional Upsus Iwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting-red) yang dikembangkan sejak 2017, kami yakin tekad Kab Malang untuk mewujudkan program Intan Bergaris Emas (Inseminasi Buatan Beranak 300 ribu ekor Masyarakat Sejahtera-red) dalam lima tahun ini akan tercapai,” beber Kadis PKH Kab Malang.

Di tahun 2018 Inseminasi Buatan (IB) yang dihasilkan mencapai 105.000, yang mana target awalnya hanya 70.000 sperma sapi, untuk aseptor atau sapi betina siap bunting mencapai 85.000 ekor. Dengan berhasilnya IB yang dibuat, secara otomatis mendongkrak angka kelahiran sapi. “Sampai per tanggal Oktober 2018 angka kelahiran sapi kita mencapai 62.900 ekor dari target 62.000 ekor. Angka ini menempatkan Kab Malang di urutan ke tiga se Jatim setelah Tuban dan Lumajang, namun hal ink bisa berubah nanti di akhir tahun, yang kita harapkan akan terjadi kenaikan,” jelas Nurcahyo.

Dengan capaian kelahiran anak sapi rata-rata 60.000 ekor per tahun, mantan Kabag Hukum Kab Malang ini yakin tekad Kab Malang mencapai 300.000 kelahiran anak sapi dalam lima tahun,yang dicanangkan Bupati Malang Dr.H.Rendra Kresna 2016 silam akan tercapai. “Kalau melihat data yang ada, kita yakin bisa,” tegasnya.

Tingginya produktivitas kelahiran sapi, berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan peternak sapi. Dimana untuk pendapatan peternak sapi potong per tahunya tahun 2017 mencapai Rp 16.401.787 sedangkan 2016 berkisar Rp 15.557.100. Untuk peternak sapi perah, pendapatan tahun 2017 mencapai Rp 17.372.048, sedang 2016 di angka Rp 16.463.300.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) kabupaten Malang, Nurcahyo
“Memang jika dilihat pendapatan dari sapi perah lebih tinggi, karena ada hasil sampingan seperti susu, namun tingkat kelahiran sapi perah lebih rendah dibanding sapi potong, yang per tahunnya hanya 21.000 ekor,” beber Nurcahyo.

“Itu penghasilan di tingkat peternak pada tahun 2017, kalau untuk penghasilan daerah, dengan kelahiran sapi per tahun 60.000 ekor, dan harga satu ekor rata-rata katakanlah Rp 8,5 juta, maka total sumbangan dari hasil penjualan ternak se tahun bisa mencapai Rl 510 Milyart. Belum hasil olahan lain seperti susu, maupun kompos,” tambahnya.

Nurcahyo pun tidak berlebihan jika kemudian beranggapan Kabupaten Malang merupakan sentra penghasil sapi. “Jika melihat urutan kelahiran dan populasi sapi di Jatim, tidak salah kan jika Kab Malang adalah sentra sapi, selama ini kita juga sudah mengekspor sapi kita ke daerah lain,” pungkasnya.

Berdasarkan data dari DPKH Kab Malang daerah sebaran populasi sapi potong ada di Kecamatan Wajak, Poncokusumo,Turen, Donomulyo, Kalipare, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Sumberpucung, Wagir, Pakis dan Singosari. Sedangkan sebaran populasi sapi perah ada di Kecamatan Pujon, Ngantang, Kasembon, Lawang, Jabung, Bantur serta Kalipare.(*)

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here