Menteri Agama Buka Muktamar Sastra di Ponpes Sukorejo Situbondo

0
91
Menag RI, Lukman Hakim Saifuddin, memukul bedug tanda dibukanya Muktamar Sastra di Ponpes Sukorejo, Situbondo.

SITUBONDO  |  Menteri Agama (Menag) RI Lukman Hakim Saifuddin, membuka secara resmi Muktamar Sastra pertama di Indonesia bertema “Menggali Kenusantaraan dan Membangun Bangsa” di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Pembukaan Muktamar Sastra itu,  ditandai dengan pemukulan bedug oleh Menag RI, Rabu (19/12/2018).

Usai membuka Muktamar Sastra yang diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan,  mulai dari sastrawan nasional, para kritikus sastra dan akademikus dari sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia, Menag RI Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi dengan kegiatan Muktamar Sasra ini, karena ini merupakan Muktamar Sastra pertama di Indonesia. Bahkan, Menteri berjanji kegiatan ini akan menjadi agenda rutin tahunan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

“Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memprakarasi dan mendukung  Muktamar Sastra ini. mereka sesungguhnya  telah membuat sejarah,”ujar Menag RI Lukman Hakim Saifuddin, Rabu (19/12/2018).

Menteri mengaku bertanggungjawab untuk memfasilitasi forum-forum seperti halnya Muktamar Sastra, agar kesusasteraan tetap menjadi arah orientasi untuk menata kehidupan ke depan yang lebih baik.

“Saya menggaris bawahi bahwa sastra dan Islam dalam konteks Indonesia merupakan sesuatu yang berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan,” imbuh Menteri

Menteri mengapresiasi perhelatan Muktamar Sastra yang merupakan pertama kalinya di Indoensia. Ini semakin menegaskan peran pesantren dalam memperkuat persatuan dan kesatuan Indoneisa.

“Perhelatan Muktamar Sastra ini sangat penting dan tepat waktu, dan kegiatan semacam ini akan kita fasilitasi,”katanya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Sukorejo, KHR Azaim Ibrahimy mengatakan, acara Muktamar Sastra ini dilatarbelakangi dengan adanya kerinduan bersama di kalangan sastrawan, penulis dan lainnya mengenai kebangkitan bangsa yang menurut catatan sejarah dimotori oleh kalangan sastrawan, seperti Chairil Anwar.

“Peradaban Nusantara di masa lali banyak diwarnai oleh kiprah para sastrawan, seperti Sutan Takdir Alisyahbana dan lainnya,” kata KHR Azaim Ibrahimy.

Menurutnya, pesantren adalah dunia sastra sesungguhnya. Bahkan, sastra telah menjadi denyut bagi pesantren sejak zaman dulu. Hampir 24 jam aktivitas santri dipenuhi dengan sastra. Kebiasaan santri di pesantren seperti zikir dalam bentuk syiiran dan pembacaan nadzom, termasuk puji-pujian kepada Allah dan Rasul-Nya menjelang shalat, itu semua syarat dengan nilai sastra.

“Kitab kuning (klasik) yang dipelajari santri juga mengandung sastra. Bahkan, Al-Qur’an sendiri juga mengandung nilai-nilai sastra, termasuk bacaan-bacaan barzanji dan diba’,” terangnya.

Hadir dalam Muktamar Sastra pertama di Indonesia. Masing-masing adalah, para penyair ternama di Indonesia, antara lain KH Mustofa Bisri (Gus Mus), D Zawawi Imron, Sosiawan Leak, dan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Gus Ulil Abshar Abdalaah.  beserta ratusan peserta baik dari kritikus sastra maupun akademikus dari berbagai perguruan tinggi.(fat)

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here