Disnaker Gandeng LPK Ganesa Beri Pelantihan Membatik

0
34
Suasana pelatihan membatik

KABUPATEN MALANG  |  Disnaker kabupaten Malang bekerjasama dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Ganesa kepanjen, memberikan pelatihan membatik bagi penyandang disabilitas. Pelatihan yang diberikan selama tiga hari, yang diikuti puluhan orang memang tidak semuanya penyandang disabilitas.

Kepada awak media, M. Yekti Pracoyo, Kepala Bidang Pelatihan dan Produktivitas (Lattas) Disnaker kab Malang menjelaskan, pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan bagi para peserta, khususnya difabel. Namun juga memberikan mereka kemampuan untuk berwirausaha, yang diberikan materi mengenai kewirausahaan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) serta materi mengenai pembiayaan keuangan bagi wirausahawan dari Bank Jatim. “Kami berdayakan difabel agar bisa mandiri yang muaranya dapat berwirausaha,” jelasnya, Senin (20/5)

Pelatihan yang diberikan oleh Disnaker ini tidak hanya berhenti disini saja, namun akan berkelanjutan bahkan nantinya juga akan ada kerjasama dengan dua perusahaan batik yang berasal dari Probolinggo dan Kepanjen. Kerjasama yang dilakukan oleh perusahaan tersebut dengan memberikan alat dan bahan bagi para peserta pelatihan.

“Jadi pelatihannya tidak berhenti sampai di sini tapi ada kelanjutan. Kemungkinan model kerja sama ini akan dilaksanakan usai Lebaran,” kata, Yekti.

Kenapa pelatihan membatik yang dipilih, lanjut Yekti, karena kerajinan ini adalah warisan budaya mjuga menjadi bagian dari budaya Indonesia. Pelatihan ini tidak hanya untuk memberikan pembekalan kemampuan bagi para peserta. Namun juga melestarikan kebudayaan lokal Indonesia yang sudah mendunia itu. “Dengan melestarika batik, diharapkan juga dapat berdampak pada peningkatan pariwisata,” paparnya.

Melihat dari seriusnya para peserta pelatihan meski mereka adalah penyandang tuli dan wicara, tidak dipisahkan dengan yang normal hal itu yang dilakukan pihak LPK agar nantinya tidak ada rasa minder bagi mereka.

“Biar mereka semakin bisa membaur dan berkerja sama dengan baik bersama peserta yang lainnya,” urai, Hamidah, Pimpinan LPK Ganesa.

Para peserta difabel tidak ada perbedaan pemberian materi khusus semua diperlakukan sama dengan yang normal, karena mereka dapat menangkap materi dengan baik. ” komunikasi bukan jadi kendala ya, jika memang tidak mengerti bahasa isyarat yang menggunakan tulisan,” tegas, Hamidah.(*)

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here