Dilarang Main Bola Di Stadion Luar Kanjuruhan, AMS Legend Datangi DPRD

0
10
Para anggota Anak Muda Sawunggaling (AMS) legend Yang merupakan salah satu Club sepak bola Kepanjen saat di kantor Dewan Kab Malang

KABUPATEN MALANG  |  Bermula dari merosotnya masa kejayaan kota Kepanjen dari pemain Bintang Sepak bola, dikarenakan sudah tidak adanya lapangan desa sebagai fasilitas latihan. Padahal lapangan merupakan kebutuhan utama bagi 8 club yang ada di Kepanjen, sebagai tempat latihan agar masa kejayaan itu tetap terjaga.

Pada media, Sugianto, ketua pengurus Anak Muda Sawunggaling (AMS) legend Yang merupakan salah satu Club sepak bola Kepanjen, Rabu (28/8) mendatangi ketua DPRD meminta ketua untuk memfasilitasi aspirasi mereka pada pengelola stadion Kanjuruhan. ” kami menginginkan bisa kembali bisa menggunakan fasilitas lapangan sepak bola luar di stadion Kanjuruhan,” terang, Sugianto.

Selama ini untuk latihan sepak bola club yang ada di Kepanjen, terpaksa harus menyewa lapangan sepak bola milik Yon Zipur 5. Padahal dulunya mereka bisa latihan distadion luar, tetapi saat ini dilarang pengelola untuk menggunakan fasilitas tersebut tanpa ada alasan.

“Padahal kami sangat membutuhkan fasilitas lapangan sepak bola, guna latihan club yang ada dikepanjen guna mengulang masa kejayaan waktu itu,” kata, Sugianto.

Memang sejak dipakainya lapangan desa, lanjutnya, sebagai gedung DPRD dan diganti di belakang SDN 7 Kepanjen, semua club yang ada enak- enak saja karena mereka masih bisa menggunakan lapangan luar stadion. Tetapi adanya larangan dan setiap latihan harus keluarkan biaya untuk sewa lapangan, otomatis AMS mempertanyakan aset hilang yang dimiliki desa Kepanjen yang sekarang meningkat status jadi Kelurahan.

Sugianto bertopi dan Alex berpatik warna merah

Terkait kejadian itu sangat menjadi keprihatinan, Alex Widyo Nugroho, SH, sekretaris asosiasi PSSI kabupaten Malang, saat mendampingi AMS menghadap ketua DPRD karena kejadian ini tidak hanya terjadi di wilayah Kepanjen saja. Hampir wilayah lain juga mengalami hal yang sama, “Turen juga mengalami kesulitan lahan yang berupa lapangan sepak bola,” urainya.

Dengan tidak memiliki fasilitas lapangan untuk mengembangkan potensinya, banyak club yang ada pada setiap kecamatan membubarkan diri. Jika dipertahankan mereka harus mengeluarkan biaya tinggi, hanya untuk sewa lapangan sebagai tempat latihan.

Padahal kabupaten Malang merupakan gudang pemain bola yang berpotensi dan sudah banyak dipakai oleh pihak luar kota, padahal mereka itu bisa mengangkat nama kabupaten Malang jika mereka tetap berada diwilayahnya. “Karena kendala tidak adanya fasilitas atau sarana untuk latihan, sebagian club yang ada alami vakum yang lebih prihatin membubarkan diri,” papar, Alex.

Guna menangani kemerosotan ini PSSI akan memfasilitasi serta mewadahi para atlit yang berbakat, disamping itu juga melakukan pengkaderan melalui usia dini sebagai salah satu wadah untuk menciptakan pemain handal nantinya. “Namun yang paling utama adalah menyediakan atau menciptakan fasilitas lapangan sepak bola,” tegas, Alex Widyo(*)

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here